HIV Merambah Usia Remaja, Orang Tua Wajib Pengawasan Melekat

Narasumber berfoto bersama peserta Sosialisasi Peran Orang Tua / Keluarga dalam Penanggulangan HIV/ AIDS.
Narasumber berfoto bersama peserta Sosialisasi Peran Orang Tua / Keluarga dalam Penanggulangan HIV/ AIDS.Narasumber berfoto bersama peserta Sosialisasi Peran Orang Tua / Keluarga dalam Penanggulangan HIV/ AIDS.
DEMAK – Menurut data SIHA atau Sistem Informasi HIV AIDS 2.1 di Kabupaten Demak terdapat temuan 99 kasus baru pada kurun Januari – Juli 2024. Sebesar 30 persen dari kelompok Lelaki Suka Lelaki (LSL), dan yang memperihatinkan lima di antaranya masuk kelompok umur remaja (15-19 tahun).
Sehubungan itu Bidang P2P Dinas Kesehatan Kabupaten Demak mengadakan acara Sosialisasi Peran Orang Tua / Keluarga dalam Penanggulangan HIV/ AIDS. Berharap orang tua turut berperan melakukan pengawasan melekat, pada putra-putri mereka. Utama dalam pergaulan di luar rumah.
Sejumlah narasumber berkompeten pun dihadirkan. Antara lain Subkor P2OM Tri Handayani SKM MM, akademisi DR Hj Suemy MSi dan lembaga pemerhati HIV / AIDS PEKA Ahmad Fauzin.
Kepala Bidang P2P Dinas Kesehatan Kabupaten Demak Heri Winarno SKM MKes menyampaikan, adanya temuan Orang Dengan HIV (ODHIV) dari kelompok usia remaja tersebut tentunya sudah sangat mengkhawatirkan.
“Maka itu perhatian dan pengawalan orang tua serta keluarga wajib agar anak tidak melakukan perilaku seks beresiko. Sehingga berpotensi terpapar HIV/AIDS,” tuturnya.
Sementara itu Dr Suemy MSi yang pernah pula mengabdi sebagai ASN di Dinas Kesehatan Kabupaten Demak mengungkapkan, multi – peran ibu sebagai pendidik, teladan, dan pencetak generasi penerus berkualitas turut menjadi penentu karakter anak.
“Mengenai peran ibu dalam melindungi keluarga dari paparan HIV/AIDS, bisa dilakukan dengan banyak hal. Yakni dengan berperan sebagai ibu, sahabat, guru, bahkan dokter dan psikolog. Sehingga tercipta pola asuh anak yang sehat, efektif, dan positif,” ujarnya.
Sedangkan untuk menjalani multi-peran tersebut, seorang ibu harus cerdas, kreatif, berliterasi, dan bersahabat dengan anak, serta mengelola diri. Saat menjadi sahabat atau teman anak, ibu hendaknya bersedia mendengarkan keluh kesahnya dan curahan hatinya. Sehingga ditemukan solusi positif untuk persoalan yang dihadapi anak.
Hindari cubitan, pukulan, bentakan, dan sikap otoriter yang bisa melukai perasaannya. Karena sakit hati saat belia akan membekas lama. Hingga akhirnya anak mencari pelarian di luar rumah yang bisa berujung pada pergaulan bebas.
“Maka itu hendaknya kita menjadi orang tua yang semakin baik setiap harinya. Agar tercipta anak berkarakter positif,” tandasnya. (MIK_SDK)


















