Evaluasi Pemberian Tablet Tambah Darah Pada Remaja Putri di SMAN 2 Karanganyar dan SMAN Dempet

Masalah kesehatan dan gizi di Indonesia pada periode 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) menjadi fokus perhatian karena tidak hanya berdampak pada angka kesakitan dan kematian pada ibu dan anak, melainkan juga memberikan konsekuensi kualitas hidup individu yang bersifat permanen sampai usia dewasa. Timbulnya masalah gizi pada anak usia di bawah dua tahun erat kaitannya dengan persiapan kesehatan dan gizi seorang perempuan untuk calon menjadi ibu, termasuk rematri (remaja putri).
Keadaan kesehatan dan gizi kelompok usia 10-24 tahun di Indonesia masih memperhatinkan. Data Riskesdas 2013 menunjukan bahwa prevalensi anemia pada WUS usia 15 tahun ke atas sebesar 22,7 %, sedangkan pada ibu hamil 37,1 %.
Rematri yang menderita anemia ketika menjadi ibu hamil beresiko melahirkan Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) dan stunting. Anemia gizi besi menjadi salah satu penyebab utama anemia, diantaranya karena asupan makanan sumber zat besi yang kurang.
Rematri pada pubertas sangat beresiko mengalami anemia gizi besi. Hal ini disebabkan banyaknya zat besi yang hilang selama menstrusasi. Selain itu diperburuk oleh kurangnya asupan zat besi, dimana zat besi pada rematri sangat dibutuhkan tubuh untuk mempercepat pertumbuhan dan perkembangan. Kegiatan evaluasi seharusnya dilakukan setelah 6 bulan pemberian TTD yang sudah di jadwalkan.



















